Click Play to get the music!!

Thursday, December 25, 2008

Agama vs Sains (bag I)

Bukanlah sebuah rahasia lagi, jika kita memperdebatkan masalah agama & sains. Orang-orang berpikir bahwa agama dan sains adalah 2 hal yang berbeda yang tidak bisa kita yakini keduanya. Atau dengan kata lain, semakin seseorang beriman pada Tuhan, ia akan semakin bodoh secara intelektual. Dan sebaliknya, semakin seseorang pandai secara intelektual, ia akan semakin tidak beriman.
Implikasi dari esensi ini adalah kebenaran yang nisbi, yaitu kebenaran menurut kedua belah pihak masing-masing. Contoh paling sederhana: Sains mengatakan bahwa bumi berusia jutaan tahun, namun agama mengatakan bahwa bumi diciptakan dalam 7 hari saja. Kebenaran manakah yang akan kita ambil?


Sebenarnya permasalahan ini adalah konflik antara iman & rasio yang keduanya dimiliki oleh manusia. Dan, jika kita tinjau dari pendekatan keagamaan, kita mengetahui bahwa Tuhan menciptakan manusia. Tuhan juga yang menciptakan iman dan rasio. Jika memang Ia menciptakan iman & rasio, mengapa kedua hal ini selalu bertentangan? Apa fungsi rasio yang sudah Tuhan berikan pada manusia?
Kondisi dunia saat ini menuntut rasionalisme. Dalam teori obyektivitas Ayn Rand, dikatakan bahwa rasio adalah naluri manusia untuk menghadapi kehidupan. Bersikap anti rasio, sama saja dengan bersikap anti kehidupan. Segala sesuatu harus rasional & masuk akal. Dan jika sesuatu tidak rasional, maka sesuatu tersebut sebenarnya tidak eksis. Contoh sederhana: Dongeng dan fabel adalah sesuatu yang tidak nyata, karena hal itu tidak masuk akal. Sebaliknya, sains adalah sesuatu yang sangat rasional, oleh sebabi itu sains eksis. Kondisi inilah yang kemudian kita akan bahas sebagai pemutlakan rasio.
Rasio manusia menjadi tolak ukur dalam segala hal. Rasio menjadi alat uji benar atau tidaknya sebuah statement. Ketika sebuah gagasan memasuki pikiran manusia, ia harus melakukan pengujian terlebih dahulu sebelum ia menerima gagasan tersebut sebagai sebuah kebenaran. Dan pengujian tersebut didasarkan pada rasio manusia.
Lalu pertanyaannya, apa yang menjamin bahwa segala seuatu yang masuk akal adalah suatu kebenaran? Mengapa rasio manusia selalu benar? Benarkah kebenaran berdasar pada rasio manusia? Sebelum kita menerima rasio kita sebagai tolok ukur yang benar sebenar-benarnya (absolute truth), kita juga harus melakukan pengujian terhadap rasio kita. Pengujian ini tidak boleh berdasar pada rasio, karena saat ini kita sedang menguji / meragukan rasio kita. Kita harus keluar dari rasio kita untuk membuktikan kebenaran rasio kita. Namun sayangnya, bagaimana kita dapat mendapatkan kebenaran itu tanpa rasio, karena dalam kasus ini rasio adalah sesuatu yang mutlak?
Dari kesimpulan ini dapat kita pastikan bahwa rasio tidak dapat dimutlakkan. Lalu bagaimana kita dapat memperoleh kebenaran itu?

bersambung...

3 comments:

FrozenFlame said...

Nek menurutku to yoz...
Agama dan IPA itu suatu hubungan timbal balik.
Dengan belajar IPA, kita jadi bisa melihat kalo Tuhan itu luar biasa. Contoh wae ya..
Ikan masih bisa hidup di kutub. Hal ini karena air yang membeku hanya di bagian permukaan. Sedang bagian bawah masih air. Pertanyaannya, mengapa kok air yg membeku hanya bisa di permukaan thok? (Pada laut di kutub lho...nggak di kulkas..kalo di kulkas, lain ceritanya :D.)
Nah, yg bisa jawab tu ya cuma Tuhan Yang Maha Tau.
Gitu..... menurutku lho...
sry nek salah.. :D

Anonymous said...

thx 4 ur comment don... huehe...

emg kadang ada & sll akn ada hal2 yg ga bisa kta jlsin secara sains... Coz hal2 itu adl hal2 yg melampaui sains (kita bahas di bag2 brkutna... ^^)

tetep ikti aj ya bag ni...

Anonymous said...

Hubungan agama dengan ilmu



Sebelum kita berbicara secara panjang lebar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi antara hubungan antara agama dengan sains maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistic yang lahir melalui saintisme yang memuat definisi ilmu sebagai ‘segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ sehingga yang diluar wilayah pengalaman dunia indera tidak bisa didefinisikan sebagai wilayah ilmu.ini adalah pandangan yang kita kenal sebagai saintisme.pandangan ini beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.artinya manusia harus mengikuti pandangan manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan yang mendeskripsikan ilmu sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan reaklitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatui padu. Pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia artinya manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupaun ilmu itu berasal dari Tuhan yang mustahil berbenturan.benturan itu terjadi karena manusia membatasi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera sedang agama mendeskruipsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang gaib sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu berbenturan dengan agama.
Jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ilmu yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistic hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu tidak akan bisa menafsirkan agama.
Jadi bila ada fitnah ‘benturan agama vs ilmu’ maka yang harus kita analisis adalah ‘ilmu’ versi siapa yang berbenturan dengan agama itu,bila itu adalah ‘ilmu’ versi saintisme maka itu adalah suatu yang kita harus memahaminya.