Menurut Plato, kebenaran bersifat kekal / abadi. Kebenaran adalah sesuatu yang tetap sejak dari tak hingga sampai menuju tak hingga. Contoh: 1 + 1 = 2, pernyataan ini adalah sebuah kebenaran, karena pernyataan ini tetap selamanya. Kebenaran ini sudah diterima sejak zaman purba dan akan terus diterima sampai akhir zaman. Tidak pernah & tidak akan pernah ada teori yang menyatakan bahwa pernyataan ini salah. Inilah yang kita sebut sebagai kebenaran. Jadi, sampai di sini, kebenaran bersifat mutlak.
Kita kembali pada rasio. Sementara kebenaran sudah ada dan akan terus ada, rasio tidaklah demikian. Rasio hanyalah menerima dan menanggapi kebenaran. Sebelum kita dilahirkan, 1+1=2 adalah kebenaran. Dan sebelum kita memahami & menerima pernyataan tersebut sebagai sebuah kebenaran, pernyataan itu sudah bernilai benar. Bukan karena rasio memahami suatu pernyataan sebagai sesuatu yang benar, maka pernyataan itu baru dapat dikatakan sebagai sebuah kebenaran. Tetapi pernyataan itu sudah terlebih dahulu bersifat benar, baru rasio memahaminya sebagai sebuah kebenaran. Dengan pemahaman ini, kita menyimpulkan bahwa rasio tidak boleh dimutlakkan.
Bukti lain, rasio selalu berkembang dari masa ke masa. Dalam pertumbuhan jasmani kita, rasio kita terus berkembang. Saat SD, kita hanya mampu mengerti perkalian & penjumlahan, namun saat kita SMA, kita mulai mengerti differensial & integral yang jauh lebih rumit. Karena rasio selalu berkembang setiap saat, maka rasio bersifat tidak kekal. Oleh sebab itu, rasio tidak boleh dimutlakkan, karena memang hakikat rasio selalu berubah & tidak mutlak.
Lalu bagaimana selanjutnya? Karena rasio tidak mutlak, sedangkan kebenaran adalah sesuatu yang mutlak, maka rasio harus tunduk pada kebenaran. Tugas rasio hanyalah memahami kebenaran yang ‘bertahta’ di atasnya, bukan memutuskan kebenaran seperti apakah yang harus diambil. Kemudian, apakah kebenaran itu? Bagaimana kita dapat mengenali kebenaran yang sejati?



















